Gerbang Sekolah dan Keterlibatan Hati
ilustrasi (Istimewa)

Oleh : Aldrin SH, Pemerhati Kebijakan Publik

Pagi itu, aroma kapur dan lantai pel masih samar tercium di lorong SMP Harapan Bangsa. Di ruang guru, Ibu Rina, seorang guru Bahasa Indonesia dengan pengalaman 20 tahun, meletakkan secangkir kopi dengan napas panjang. Ia baru saja menyelesaikan rapat darurat yang membahas sebuah isu yang kian meresahkan: resistensi orang tua terhadap teguran di sekolah.

Ibu Rina teringat pada kasus Doni, seorang siswa kelas VIII yang sering terlambat. Kemarin, ia hanya menegur Doni dengan suara tegas, “Doni, kamu sudah terlambat lima kali minggu ini. Disiplin itu penting.” Teguran standar, namun beberapa jam kemudian, ponsel Ibu Rina dipenuhi pesan WhatsApp dari Ayah Doni yang bernada defensif, menuduhnya “mempermalukan” sang anak dan “melukai mental” Doni.

Konflik di benak Ibu Rina: Kapan batas antara mendidik dan melukai menjadi begitu tipis di mata orang tua?

Melihat fenomena ini dimana guru takut menegur karena ancaman aduan, dan kedisiplinan mulai luntur di kalangan siswa—Kepala Sekolah memutuskan untuk mengeluarkan sebuah Himbauan Resmi. Pernyataan yang Anda berikan adalah inti dari himbauan tersebut, yang dicetak tebal dan ditempel di papan pengumuman sekolah, serta dikirim melalui grup komunikasi orang tua.

Isi himbauan itu menohok dan sengaja dibuat provokatif:

“HIMBAUAN UNTUK SEMUA ORANG TUA: Kalau tidak mau anaknya ditegur guru di sekolah, silakan didik sendiri di rumah. Bikin sekolah sendiri, rapor sendiri, dan ijazah sendiri.”

Kalimat ini menjadi puncak ketegangan. Di grup WhatsApp, reaksi terbagi dua: sekelompok kecil orang tua yang merasa tersindir dan marah, dan mayoritas yang setuju, merasa bahwa teguran itu memang diperlukan.

Bayangkan Pak Budi, guru olahraga yang dikenal paling tegas, yang pernah mendapati seorang siswa menyontek. Teguran Pak Budi sangat keras—mengeluarkan siswa dari kelas dan memintanya merenung. Bagi orang tua yang defensif, ini adalah tindakan “kekerasan emosional.”

Namun, di balik ketegasan itu, ada pesan yang ingin disampaikan narasi:

“Jangan salah paham, menegur bukan berarti membenci, tapi tanda peduli agar anak tidak salah jalan.

Teguran itu adalah upaya untuk menyelamatkan masa depan anak dari kebiasaan buruk, sebuah bentuk cinta yang tidak populer dan sering disalahartikan. Teguran tersebut adalah investasi karakter.

Himbauan tersebut memaksa semua pihak untuk merenung. Esensi dari pendidikan adalah pembentukan karakter dan kedisiplinan, dan ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.

Narasi mencapai resolusi ketika salah satu orang tua yang paling defensif, Ayah Doni, mendatangi sekolah. Ia tidak datang untuk mengeluh, tetapi untuk bertemu Ibu Rina.

“Bu Rina,” katanya dengan nada lebih lembut, “Saya salah. Saya terlalu melindungi anak saya sampai lupa bahwa ketegasan Ibu adalah cermin dari apa yang saya harapkan dari Doni: tanggung jawab.”

“Mari dukung guru untuk tetap tegas dalam kebaikan, karena tanpa disiplin, pendidikan akan kehilangan arah. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi arena kolaborasi paling penting di mana orang tua dan guru berdiri berdampingan, memastikan setiap langkah anak menuju masa depan ditempuh dengan ketegasan dan kepedulian yang sama.”