Malam kian larut, dan jam dinding kayu di ruang tamu seperti berbisik perlahan. Aku merasakan keheningan yang menyesakkan; ini adalah malam pertama aku tidur tanpa dia di sampingku, tanpa deburan napasnya yang rutin di bantal sebelah. Mataku terasa berat, seolah kelopak itu terpejam dengan sendirinya, menyerah pada lelah jiwa yang tak terperi. Kepergiannya meninggalkan lubang kosong yang bahkan selimut tebal pun tak sanggup menutupinya. Rasa dingin merayap, bukan hanya dari suhu kamar, tapi dari kesendirian yang mulai akrab.
Seperti biasa, rutinitas lama tak pernah berkhianat. Kokok ayam jantan dari pekarangan tetangga membangunkanku jauh sebelum subuh datang. Udara masih sarat embun ketika kakiku mulai melangkah keluar dari kamar. Aku bergegas menuju belakang rumah, ke area pancuran yang lantainya licin karena lumut. Di sana, di tengah remang, aku melihat sosok wanita yang sangat aku kenal, berdiri mematung. Kami memang telah terbiasa bangun sebelum adzan berkumandang, menjalankan ritual pagi dalam diam.
“Ibu,” panggilku pelan, memastikan ia mendengarku. Punggungnya masih menghadapku, sibuk dengan sesuatu di pancuran.
“Ya…” jawab Ibu, suaranya sedikit serak, tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Ibu adalah benteng pertahananku, teman setiaku menghabiskan waktu sekarang, berbagi beban yang tak terucapkan. Selain anakku, Ibu adalah alasan terbesar mengapa kakiku masih kuat untuk melangkah setiap pagi.
Aku kembali ke dalam untuk bersiap. Kutarik pintu rumahku yang sudah koyak dengan perlahan. Kayu lapuk itu berderit pelan, memperlihatkan beberapa lubang kecil dan bekas coret-coretan pensil warna dari tangan mungil anakku. Senyum tipis terukir di bibirku. Aku merapikan kerudungku dan mengoleskan sedikit minyak telon ke tanganku, aromanya yang khas masih tercium kuat, seolah membawa sisa kehangatan tidur anakku.
Langkah kakiku bergegas meninggalkan rumah. Arloji Alba kesayanganku di pergelangan tangan kiri menunjukkan pukul 6:35 pagi. Rutinitas sebagai karyawan perpustakaan di sebuah sekolah swasta menanti. Aku berpamitan pada Ibu, menitipkan anakku dalam jagaannya. “Bu, aku berangkat ya. Tolong jaga dia baik-baik,” kataku seraya mencium tangan beliau. Ibu hanya mengangguk, mengusap bahuku. “Hati-hati, Nak. Jangan lupa sarapan di sana,” balasnya.
Aku berayun menuju sebuah bangunan yang menjadi tempat anak-anak SMP menimba ilmu, jaraknya sekitar satu kilometer. Di seberang jalan besar, kulihat beberapa mobil dan motor berlalu-lalang dengan cepat. Biasanya, akan ada yang menawari tumpangan, menawarkan kebaikan untuk mempercepat waktu sampaiku. Namun, pagi ini nasib baik tak berpihak padaku. “Jalan setapak saja,” batinku, memutuskan.
Aku memilih jalan pintas yang biasanya lengang, sepi, dan mungkin agak menakutkan bagi sebagian orang. Di sana, terhampar ladang tandus dan pohon-pohon jati berukuran sedang di sisi kanan dan kiri jalan, dan terdapat sungai kecil di kejauhan. Udara masih terasa dingin menusuk karena tempat tinggalku berada di dataran tinggi.
Cuaca pagi itu diselimuti gerimis tipis, pertanda awal musim hujan. Aku mulai berlari kecil, naik-turun perbukitan, melintasi sela-sela ilalang dan batuan kecil yang licin. Dengan sigap, kututup kepalaku dengan tas kulit sintetis – tas kerjaku. Aku tak ingin kain kerudungku basah, tanpa peduli apakah tahun depan aku bisa membeli tas baru atau tidak. Prioritasku hanyalah tiba tepat waktu.
Dari kejauhan, telingaku telah menangkap riuh rendah suara anak-anak murid. Mereka telah tiba. Bagian belakang bangunan sekolah tempatku bekerja, yang berwarna putih kusam, telah terlihat di balik pepohonan. Napasku terengah, tetapi hatiku sedikit lega. Satu kilometer penuh perjuangan telah kutempuh, dan babak baru hari ini siap untuk dimulai.
